Pada
tahun ajaran baru, seorang murid baru ditemani oleh ibunya mendaftar di SD yang
diinginkan oleh sang anak. Anak itu bernama Abel. Abel memilih sekolah ini
karena ia berfikir letak SD ini tak jauh dari rumah sehingga ia dapat mudah
pulang ataupun berangkat tanpa harus diantarkan oleh ibunya. Namun Abel
mempunyai keterbatasan dalam pengelihatan, ia merupakan penderita cacat mata
sehingga hal itu mengurangi rasa percaya dirinya.
![]() |
Abelpun menjadi siswa SD
itu. Teman-teman se-kelas Abel mulai memperhatikan tingkah lakunya yang
menimbulkan berbagai macam pertanyaan, “ Mengapa
Abel jalanya pakai tongkat?”, “Mengapa ia
selalu memakai kacamata hitam?”. Seiring pertanyaan tersebut sang gurupun
menjelaskan bahwa Abel adalah anak yang menderita cacat mata. Seiring
berjalanya waktu temen-teman Abel mulai dengan tindakan usilnya, salah satunya
mengejek-ngejek Abel yang membuat hati Abel merasa sakit. Tak jarang ketika
pulang Abel menangis tersedu-sedu.
Dia bertanya pada
ibunya,”Bagaimanakah agar mataku dapat sembuh?”.
Sang ibupun menjawab “Hanya mukjizatlah yang dapat
menyembuhkan matamu”. “mukjizat?’,’Apa itu?”. Tanya Abel dalam hati. Sesaat kemudian
Abel masuk ke kamar dan berdoa untuk ’mukjizat’,
yang dia harapkan untuk kesembuhan kedua matanya, agar teman-temannya tidak
mengejeknya lagi. Tidak lama setelah itu, Abel mulai menutup matanya dan
membukanya kembali. Dia ingin tahu, apakah dengan doanya tadi abel dapat
melihat kembali?. Ternyata matanya belum sembuh. Lalu ia kembali ke kamar dan
mengambil celengannya yang berisikan uang tabungan dari sejak ia masuk sekolah.
Celengan itu lalu ia pecahkan sehingga uang logam yang ada di dalamnya
berhamburan. Satu persatu uang itu dia pungut. Setelah dihitung celengannya itu
ternyata berisikan uang sejumlah Rp. 107.000,00.
Semula uang itu akan
dipergunakannya untuk membeli ‘mukjizat’di
apotek yang berada di seberang jalan dari rumahnya. Namun karena Abel teringat
ucapan ibunya bahwa “hari ini mereka takkan dapat
makan karena tak mempunyai uang untuk membeli nasi”. Desakan ekonomi
yang menimpa keluarganya, membuat hati Abel iba ia merasa uangnya lebih baik
diberikan ibunya untuk membeli nasi. Segeralah Abel mencari ibunya untuk
memberikan uang itu. Sudah berkali –kali ia mencari ibunya, namun tak bertemu
juga. Tiba-tiba seorang lelaki dengan nafas terengah-engah setelah berlari,
menghampiri Abel dan mengatakan bahwa ibunya telah mengalami kecelakaan. Dengan
mata bercucuran air mata Abel segera berlari tanpa arah, mendekati suara orang
berkerumunan tanpa memperdulikan langkahnya, hingga ia berulang kali terjatuh.
Abel menangis
tersedu-sedu meraba dan merasakan orang yang paling ia cintai terbaring di
jalan. Mobil ambulanpun datang dan membawa ibu Abel ke rumah sakit. Namun apa
daya, ibu Abel talah meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit. Kini ia
hidup sendirian di kota kecil itu, pernah Abel mendengarkan ibunya berbicara
bahwa ‘Di dunia ini terdapat dua macam manusia,
yang satu berhati baik dan yang satu berhati buruk. Hal itu hanya dapat
diketahui dari dalam hati bukan dari pengelihatan ataupun perabaan, karena
perasaan itu terbentuk dari ketulusan hati’. Pendidikan Abel kini telah
terhenti akibat tak mampunya melunasi biaya administrasi sekolahnya.
Dalam kondisi ini,
semangat Abel tak pernah luntur. Ia tidak ingin hidup seperti ini, hidup yang
menggantungkan diri pada orang lain, ia ingin hidup seperti orang-orang lain
yang dapat bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Dengan tongkat dan kacamatanya Abelpun
melangkah keluar dan mencari pekerjaan agar ia dapat memperolah uang. Namun tak
ada pekerjaan yang ia dapat kerjakan. Haripun mulai gelap, abelpun memutuskan
unrtuk segera pulang. Di tengah perjalanannya pulang, ia bertemu lelaki tua
bernama Pak Toy. Lelaki setengah tua itu menanyai Abel.
“Namamu siapa,
dik?” Tanya pak Toy,
“Namaku Abel,
pak” jawab Abel,
“Apa yang kamu
lakukan disini?” dengan rasa penasaran pak Toy bertanya,
“Abel sedang
mencari pekerjaan, apakah bapak punya pekerjaan untuk abel?” Tanya Abel
dengan lugunya,
“Ada banyak
pekerjaan disini, kamu hanya perlu membawa tempat untuk meletakkan uang”
jawabnya,
“Pekerjaan
seperti apa itu, Pak?” jawab Abel penasaran,
“Mengemis!”dengan
tegas pak Toy mengatakannya,
“Saya mohon
maaf Pak, mungkin saya sebagai manusia memiliki keterbatasan fisik. Namun saya
tidak ingin menggeluti pekerjaan seperti itu, Karena saya berkeinginan membantu
orang lain bukan meminta orang lain”. Jawab Abel percaya diri,
“Ya sudah kalau
begitu” jawab Pak Toy dengan marah dan kesal,
Abelpun segera
melanjutkan perjalanan pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Abel
beristirahat sejenak di kasur kusam miliknya. Abel teringat bahwa ia masih
menyimpan uang Rp.107.000,00 miliknya. Ia
memikirkan tentang kesembuhan matanya. Ia merenung meratapi nasibnya dan
bertanya dalam hati, “Mengapa keadaanku seperti ini?”.
“Mengapa semua ini terjadi kepadaku?”. Hal
itu membutnya teringat akan ‘mukjizat’ yang
pernah ibunya katakan. Segeralah Abel pergi ke apotek di seberang jalan
rumahnya. Sesampai di apotek, Abel tidak terlalu ditanggapi oleh petugas
apotek, malah ia diusir dan dibentak-bentak agar keluar dari apotek itu. Dengan
segenap niat dan semangat yang ada, Abel tetap berdiri di ruang apotek itu.
Akibatnya, petugas apotek itu kesal dan menghampirinya.
“Mau apa
kamu dik?” Tanya petugas itu.
“Saya mau
membeli ‘mukjizat’ untuk kesembuhan kedua mata saya!” jawab Abel mantap
sambil menunjukkan uang recehnya yang berjumlah Rp.107.000,00 tadi.
“Mukjizat
katamu?” jawab petugas apotek itu.
“Ya, benar
‘mukjizat’ karena hanya mukjizatlah yang dapat menyembuhkan kedua mataku!”
jawab Abel percaya diri.
Belum sempat sang petugas menjawab,
tiba-tiba sorang pria yang mendengar ucapan Abel menghampirinya.
“Siapa namamu,
nak? Memangnya ‘mukjizat’ seperti apa yang
kamu butuhkan ?” Tanya pria itu. Abel pun kemudian menceritakan kisah
hidupnya dari awal serta keadaan yang saat ini ia alami, sementara pria itu
dengan sabar mendengarkan cerita Abel.
Tak disangka pria itu
ternyata seorang dokter spesialis mata terkenal, Dr. Arnold Soekamtjo. Setelah
mendapatkan donor mata yang cocok , Abelpun segera dioperasi. Tidak hanya itu,
Dr. Arnold Soekamtjo juga mengangkat abel menjadi anaknya. Abel pun tersenyum
bahagia setelah dapat melihat indahnya dunia, dan telah mempunyai seorang ayah
angkat yang merupakan salah satu manusia berhati baik di dunia.
“Bel, perbedaan
tidak selalu baik, tetapi yang terbaik itu sudah pasti berbeda” nasehat
ayahnya yang selalu diingat oleh Abel. Kini Abel menjadi seorang Manager di
salah satu perusahaan terkenal di Amerika Serikat, tidak hanya itu ia juga
mendirikan sekolah khusus untuk penderita cacat mata dan masyarakat kurang
mampu.


0 komentar:
Posting Komentar