Kisah
ini berawal dari seorang anak yang hidup di keluarga yang miskin. Ia mempunyai
cita – cita yang sangat mulia yaitu naik haji bersama ibunya. Anak ini bernama
Agus. Ia hidup hanya bersama ibunya yang bernama ibu Tari. Ayahnya telah
meninggal karena kecelakaan saat ia berusia 5 tahun. Agus merupakan siswa
berprestasi, tak kurang segudang piala lomba antar sekolah telah ia menangkan.
Namun kisah hidupnya sangat mengenaskan, ia sering dicemooh orang, dihina,
karena ia mempunyai banyak kekurangan dalam hidupnya. Ia telah mencoba untuk
berteman, namun hanya segelintir orang saja yang mau berteman dengannya.
Sore
hari menjelang petang, di Desa Asri. Ibu Tari menanti kepulangan Agus dengan
gelisah karena tak biasanya Agus pulang selarut itu. Tiba-tiba sang ibu
dikagetkan dengan suara yang terdengar dari arah pintu, yang ternyata itu suara
Agus.
Ibu : (sambil menuju ke pintu)
“Walaikumussalam .. Agus.. dari mana saja kamu? Tak biasanya
kamu pulang selarut ini”
Agus : (sambil meletakkan tas di kursi)
“Anu bu ada jam tambahan di sekolah .. terus buat tugas kelompok dirumah temen
.. setelah pulang bisnya agak seret .. ibu dah makan?”.
Ibu : (bingung dan grogi)
“Ee.. ibu ..ibu dah makan nak, sudah kok .. (masuk bersama anak) cepet kamu
mandi terus makan!”.
Agus : (sesudah mandi, menuju ke dapur
lalu membuka tudung saji) “Kok cuma ada roti bu? Ibu tadi ndak masak ya?
berarti ibu tadi bohong, pasti belum makan ya?”.
Ibu : (bingung) “Ee.. sudah
kok, itu ibu sisihkan untukmu ... adanya hanya roti, disyukuri saja ya
nak”.
Agus : “Kok ibu tidak masak nasi ?”.
Ibu : “Berasnya habis nak,
belum beli lagi”.
Agus : (sambil menyodorkan roti ke ibunya) “Ini
bu .. ibu makan saja, aku dah kenyang...pasti ibu tadi belum makan?”.
Ibu : (sambil memegang
perut) “Ibu sudah kenyang, kamu makan saja !”.
Agus : (membagi rotinya menjadi dua dan
menyodorkannya kepada ibunya) “ Ini bu
rotinya aku bagi, setengah buat ibu, setengah
buat aku”.
Ibu : (menggeleng) “
Udah .. udah, ibu sudah kenyang rotinya kamu makan saja!”.
Agus : (meletakkan rotinya) “Kalau ibu
gak mau, aku juga gak mau memakannya”.
Ibu : (sambil mengambil
rotinya) “Iya .. iya ibu makan”.
Agus : “Gitu dong bu”.
Ketika
Agus dan ibunya sedang makan roti di dapur, terdengar suara keras di depan
pintu. Ternyata itu adalah Ibu Sarti. Ia datang untuk menagih utang ke ibu Tari.
Sarti : (mengetuk pintu) “Asalamualaikum
... Asalamuallaikum ..”.
Agus : (berdiri ingin membuka
pintu) “Biar saya saja yang buka pintunya .. Ibu makan saja dulu ..
walaikumusalam.. (membuka pintu) ehh, ibu Sarti ada apa bu ?”.
Sarti : (dengan suara agak keras) “Saya
ingin ketemu dengan ibu kamu..’’
Agus : “Sebentar ya Bu saya
panggilkan, silahkan masuk Bu”. (masuk memanggil ibunya) “Bu dicari Bu Sarti”.
Ibu : “ O .. ya sebentar...(menuju
ke Bu Sarti) Ada apa bu malam-malam datang ke sini?”.
Sarti : (duduk) “Begini bu
saya ingin mengambil uang yang ibu pinjam satu bulan yang lalu, saya ingin
menggunakan uang itu”.
Ibu : (bingung)
“Ee.. begini bu sebelumnya saya minta maaf, uangnya belum ada bu, kasih waktu
saya 2 minggu insyaallah saya akan bayar”.
Sarti : “Begini bu,
uang itu akan segera saya pakai, kalau bisa 3 hari lagi ya bu?”.
Ibu : “Iya bu
terima kasih”.
Agus : (menuju ibunya) “Ada
apa bu?”.
Ibu : “Bu
Sarti nagih utang ke ibu, 1 bulan yang lalu”.
Agus : “Memangnya
berapa utang ibu?”.
Ibu : “500
ribu, nanti ibu akan jual ayam kamu yang 3 itu ya, nanti ditambah hasil jualan
ibu di pasar”.
Agus : “Ya bu jual saja
, ya sudah bu kita shalat maghrib dulu udah adzan”.
Siang
hari di sekolah, Agus berada di kelasnya bersama teman-temannya yang sedang
menerima pelajaran. Tiba-tiba mereka dikagetkan oleh datangnya guru BK yang
datang ke kelas Agus.
Guru : (Memanggil Agus dari depan pintu kelas)
“Agus kemari ada hal yang perlu ibu sampaikan kepada kamu?”.
Agus : (bingung), “Hal
apa Bu?”
Guru : “Nanti sehabis
pulang sekolah temui ibu di kantor Ibu, disana nanti ibu jelaskan!”
Agus : “Baik bu...”
Suara
bel sekolahpun berbunyi pertanda bahwa kegiatan belajar mengajar telah usai.
Agus langsung menemui Ibu Sri dikantor BK.
Agus : (mengetok pintu)
“Assalamualaikum”
Guru :
“Waalaikumusalam, Oo... Agus masuk Gus!”
Agus : (masuk ke kantor
BK), “ Sebenarnya ada apa Bu?”
Guru : “Begini Gus,
kamu terlambat 3 bulan belum membayar SPP ?”
Agus : (takut) “Iya Bu, belum... maaf soalnya
Ibu saya belum punya uang untuk membayar SPPnya”.
Guru : “Begini lho Gus, sebentar lagikan akan
diadakan Ujian Akhir Sekolah jadi segala administrasi pembayaran sekolah harus
dilunasi demi kelancaran kegiatan tersebut”.
Agus : (bingung) “Tapi Bu.. saya belum
mempunyai uang untuk melunasi biaya SPP itu, apakah dibolehkan membayar SPPnya
minggu depan?”.
Guru : “Maaf Gus tapi harus dibayar
paling lambat 3 hari sebelum pelaksanaan Ujian Akhir Sekolah, Bagaimana?”
Agus : (berfikir) “Ee.. ya Bu, insyaalah
nanti saya bayar sebelum Ujian Akhir Sekolah, terima kasih ya bu”
Guru : “Sama – sama”
Agus
keluar dari kantor BK. Di tengah jalan menuju ke rumah, Agus memikirkan
bagaimana cara agar ia bisa membayar biaya SPPnya, ia tahu bahwa ibunya sudah
tidak mempunyai uang lagi. Ia befikir untuk mengamen agar ia dapat uang. Dalam
benaknya hanya mukjizatlah yang dapat menolongnya. Namun di tengah jalan, Ia
melihat seorang nenek tua yang terjatuh di jalan, tanpa pikir panjang Agus
segera menolong nenek itu.
Agus : (sambil
mengangkat nenek itu) “Nek perlu bantuan?”.
Nenek : “Iya, nak
tolong antar nenek kembali ke rumah”.
Agus : “Rumah
nenek dimana?”.
Nenek : “Di daerah desa Asri
nak”.
Agus : “ Kebetulan nek, saya juga
ingin pulang .. rumah saya berada di desa itu juga, mari saya antar” (sambil
menggandeng tangan nenek).
Nenek : “Iya nak terima
kasih”.
Agus : “Sama –
sama nek”.
Setelah
sekian menit berjalan, tibalah Agus dirumah sang nenek. Ternyata rumah nenek
itu besar sekali, sampai Agus terpukau melihatnya. Disana sang nenek ternyata
sedang ditunggu oleh anaknya yang sedang cemas menunggu sang nenek.
Agus
:
“Assalamualaikum ..”.
Anak nenek : “Walaikumusalam, (menghampiri Agus
dan sang nenek) nenek.. dari mana saja? aku khawatir kalau nenek kenapa-napa”.
Nenek
: “Aku dari jalan – jalan,
tiba-tiba aku terjatuh di jalan .. untung ada anak baik ini yang mau
menolongku”.
Anak nenek : (sambil menyalami Agus)
“Terima kasih ya nak, untung ada kamu jadi nenek saya dapat pulang dengan
selamat, ngomong-ngomong siapa nama kamu?”.
Agus
: “Nama
saya Agus pak”.
Anak nenek : (sambil
menuntun nenek masuk rumah) “Ayo Gus masuk dulu ..!”.
Agus
: “Maaf
pak keburu malam, saya ingin langsung pulang saja”.
Anak nenek : “Ya sudah kalau begitu .. (sambil
mengambil uang di saku bajunya) Ini uang sekedar rasa terima kasih saya”.
Agus
: “Ndak
pak .. ndak usah pak”.
Anak nenek : “Udah
terima saja ..”.
Agus
:
“Terima kasih banyak pak”.
Anak nenek :
“Sebetulnya aku yang harusnya berterima kasih kepadamu”.
Agus
: (sambil melangkah keluar
halaman depan rumah) “sudah dulu pak, saya ingin pulang”.
Anak nenek : “ Iya,
hati-hati di jalan ..”.
Sesampainya dirumah, Agus
sudah ditunggu oleh Ibunya.
Ibu :
“Darimana saja kamu Gus?”.
Agus : “Aku habis nolongin
seorang nenek bu”.
Ibu :
“Nenek siapa?”.
Agus : “Nenek yang tinggal diseberang desa Asri
itu lho bu, terus anak beliau memberi uang kepadaku”.
Ibu : “Yaa
sudah, cepat makan sudah ibu siapkan di meja”.
Agus : (masuk ke rumah) “Iya bu.. , Ooya bu
tadi disekolahan Agus dipanggil Guru Bk, disuruh secepatnya untuk membayar
biaya administrasi sekolah karena sebentar lagi akan diadakan Ujian Akhir
Sekolah.
Ibu :
(kaget) “Tapi, Gus Ibu belum punya uang”.
Agus :“Alhamdullilah bu, Agus memperoleh rezeki
dari Allah, rezeki ini cukup untuk membayar SPP”.
Keesokan
harinya. Di sekolahan, Agus berjalan menuju ruang Administrasi untuk membayar
SPPnya yang belum lunas. Di tengah jalan ia bertemu dengan Santi. Santi adalah
orang yang suka mengejek Agus serta ia sangat membenci Agus karena Agus
dianggapnya orang rendahan.
Santi : (dengan centilnya)
“Mau kemana kamu orang miskin?”.
Agus : “Saya mau ke ruang
administrasi”.
Santi : “ Haaah .. baru mampu
bayar SPP sekarang, menjelang Ulangan lagi, kasihaan..”.
Agus : “Saya mampu
membayarnya baru hari ini kok”.
Santi : “Emangnya uangmu laku untuk membayar
biaya SPP itu? Paling-paling uang dari utang yang kau bawa itu...”.
Agus : “Astagfirullah, kamu mau apa memang?
Kamu mau ejek aku sampai aku pingsan, juga gak ada pengaruhnya lagi
terhadapku... Untung aku dapat pengajaran dari ibuku.. Kamu gak kan?.
Santi : “Apa maksudmu? Mau
macam-macam ma aku!”.
Agus : “Apa !?! kamu emang orang kaya! Tapi gak
dapat pendidikan tata krama ya?? Kamu gak pernah belajar hidup, orang sombong!”.
Santi : (marah) “diam kamu! Tahu apa kamu soal
hidup! Kamu itu hidup miskin, udah kayak dipenjara”.
Agus : “ Asal kamu tahu aja, semiskin-miskinnya
orang apabila ia bersungguh-sungguh dalam hidupnya, maka hidupnya akan bermakna
dari pada orang yang hanya pekerjaannya mengejek orang..”
Santi : (hanya terdiam)
Hari
Ujian Akhir Sekolahpun datang, Agus dengan perasaan senang mengikuti Ujian
tersebut. Setelah ia lulus ia ingin menjadi Tenaga Kerja di Malaysia, ia
menginginkan hidupnya lebih bermakna sekaligus dapat membantu orangtuanya.
Setelah beberapa hari menantikan hasil dari Ulangan Akhir Sekolah, Aguspun
menjadi siswa terbaik dengan nilai terbaik pula. Selang beberapa bulan ia
memutuskan untuk bekerja menjadi TKI di Malaysia, ia menuju ke Bandar transit
yang duganakan untuk penyaluran TKI ke Malaysia. Setelah mengucapkan salam
perpisahan dengan ibunya, ia mulai menampakkan kakinya ke dunia luar yang belum
ia kenal sebelumnya .... Setelah beberapa hari di perjalanan, akhirnya Ia
sampai di rumah majikan yang berada di Malaysia. Kebetulan majikan laki-lakinya
merupakan orang asli Indonesia, sehingga memudahkan Agus berkomunikasi dengan
majikannya tersebut. Majikan laki-laki itu bernama Hasan sedangkan istrinya
bernama Ros.
Agus : (sambil
mengetok pintu) “Assalamualaikum.. assalamualaikum”.
Ros :
(sambil membuka pintu) “Waalaikumusalam, kamu siapa?”.
Agus : (sambil meletakkan tangan di dada) “Saya
Agus, saya seorang tenaga kerja dari Indonesia, apakah betul ini rumah Bapak
Hasan dan Ibu Ros?”.
Ros :
“Oo.. Jadi kau yang nak bekerja?”.
Agus : “Iya”
(sambil menganggukkan kepala).
Ros :
(sambil menunjuk tangan ke dalam rumah) “Masuk.. siapa nama kau?”.
Agus : “Saya
Agus, Bu”.
Ros :
“Oo.. Agus. Okay, saya Mok Cik Ros. Ini husband saya, Pak Cik Hasan”.
Hasan : “Kau masih muda, apa
tidak sekolah?”.
Agus : “Saya
lulusan Senior High School di Jawa Pak”.
Hasan : “Dari Jawa? Aku
juga berasal dari Jawa, Gimana kabar Jawa?”.
Agus :
“Alhamdullilah, disana baik-baik saja”.
Hasan : “Bagus
kalau gitu, Tapi kau lulusan Senior High School mengapa kau malah jadi TKI?.
Agus :
“Saya menjadi TKI karena saya ingin membantu biaya hidup saya dan juga ibu saya
Pak Cik, di Jawa saya hidup serba kekurangan Pak Cik”.
Ros :
“Malang hian nasib engkau, sudahlah jangan kau berdukalah. Kau kan sekejap kak
sini, kau mesti rajin bekerja. Cuman setahun kan?”.
Agus
: “Iya, Mak Cik”.
Hasan : (sambil berjalan
menuju ke sebuah kamar) “Kamu capekkan? Kamu boleh beristirahat dulu di kamar
ini!”.
Agus
: “Terima kasih Pak Cik”.
Setelah
istirahat beberapa menit, Agus mulai bekerja.. membersihkan piring, menyapu,
mencuci mobil dan sebagainya. Suatu hari, Agus disuruh mengantar Pak Cik Hasan
ke Universitas Malaysia, karena ia bekerja sebagai Dosen yang mengampu mata
kuliahan Managemen Diplomatic di Universitas tersebut. Sejak saat itu Agus mulai
tertarik dengan mata pelajaran tersebut. Setiap Ia bekerja, ia selalu
meluangkan waktunya membaca buku-buku milik pak Cik yang tertata di dalam rak
buku. Suatu hari Pak Cik menemukan sebuah artikel tentang “Tingkat kemakmuran
suatu bangsa dilihat dari penduduknya” yang tergeletak di antara tumpukan buku,
yang dibawahnya tertulis nama Agus. Pak Cik Hasan pun segera memanggil hasan
untuk datang ke ruang kerjanya.
Agus : “Ada apa
Pak? Memanggil saya?”.
Hasan : “Gus, saya menemukan kertas berisi
artikel tergeletak di atas meja kerja saya, apa ini punya kamu?”.
Agus : (takut)
“Ii..ya Pak itu punya saya”.
Hasan : (heran) “Bagaimana
kau bisa menulis artikel se-akurat ini?”.
Agus : “Saya
banyak belajar dari buku itu pak, (sambil menunjuk ke salah satu buku)”.
Hasan : (mengangkat dan menunjukkannya kepada
hasan), “Buku ini, buku ‘Best world, world open liver
eye’?”.
Agus
: “Iya pak, betul”.
Hasan :
“Bagaimana kau bisa membaca buku ini?”.
Agus : “Setiap kali saya
membersihkan ruang kerja Bapak, saya menyempatkan waktu untuk membaca buku-buku
yang berada di sini, salah satunya buku itu Pak”.
Hasan :
“Bagaimana kau dapat memahami isi buku ini?”.
Agus
: “Karena isi dari buku itu merupakan setengah dari hidup yang
telah saya alami, Pak..”.
Hasan : “Hidup
yang seperti apa?”.
Agus
: “Hidup yang penuh cobaan, harapan, dan kesedihan Pak”.
Hasan : “Hebat ..
hebat kamu Gus ....., bagaimana kalau kamu bapak sekolahkan!”.
Agus
: (kaget) “Maksud bapak saya disekolahkan di jenjang Universitas??”.
Hasan : “Iya
Gus betul ..”.
Agus : (sangat
gembira) “Iya Pak .. Iya saya mau..”.
Setelah
4 tahun bersekolah. Agus lulus dengan sangat membagakan, dengan gelar Insinyur
yang telah ia sandang. Agus sangat dicari-cari berbagai perusahaan di Asia
karena kepintaraanya. Agus memutuskan untuk bekerja di suatu perusahaan ternama
di Jepang. Kemudian ia kembali ke Indonesia dan mewujudkan cita-citanya yaitu
naik haji bersama sang ibu ke tanah suci. Betapa senangnya hati Agus serta
ibunya dapat berhaji ke tanah suci.......
AGUS
salah satu manusia yang mau berusaha di bumi ini ...


1 komentar:
Aduh.. hmm gimana bilangnya ya.. pokonya aku suka banget naskah drama ini ! banyak sekali pembelajaran yang baik dan makna dari naskah drama ini
Posting Komentar