Cerita Tentang Mukjizat "Rp. 107.000,00"



Pada tahun ajaran baru, seorang murid baru ditemani oleh ibunya mendaftar di SD yang diinginkan oleh sang anak. Anak itu bernama Abel. Abel memilih sekolah ini karena ia berfikir letak SD ini tak jauh dari rumah sehingga ia dapat mudah pulang ataupun berangkat tanpa harus diantarkan oleh ibunya. Namun Abel mempunyai keterbatasan dalam pengelihatan, ia merupakan penderita cacat mata sehingga hal itu mengurangi rasa percaya dirinya.


Abelpun menjadi siswa SD itu. Teman-teman se-kelas Abel mulai memperhatikan tingkah lakunya yang menimbulkan berbagai macam pertanyaan, “ Mengapa Abel jalanya pakai tongkat?”, “Mengapa ia selalu memakai kacamata hitam?”. Seiring pertanyaan tersebut sang gurupun menjelaskan bahwa Abel adalah anak yang menderita cacat mata. Seiring berjalanya waktu temen-teman Abel mulai dengan tindakan usilnya, salah satunya mengejek-ngejek Abel yang membuat hati Abel merasa sakit. Tak jarang ketika pulang Abel menangis tersedu-sedu. 
Dia bertanya pada ibunya,”Bagaimanakah agar mataku dapat sembuh?”. Sang ibupun menjawab “Hanya mukjizatlah yang dapat menyembuhkan matamu”. “mukjizat?’,’Apa itu?”. Tanya Abel dalam hati. Sesaat kemudian Abel masuk ke kamar dan berdoa untuk ’mukjizat’, yang dia harapkan untuk kesembuhan kedua matanya, agar teman-temannya tidak mengejeknya lagi. Tidak lama setelah itu, Abel mulai menutup matanya dan membukanya kembali. Dia ingin tahu, apakah dengan doanya tadi abel dapat melihat kembali?. Ternyata matanya belum sembuh. Lalu ia kembali ke kamar dan mengambil celengannya yang berisikan uang tabungan dari sejak ia masuk sekolah. Celengan itu lalu ia pecahkan sehingga uang logam yang ada di dalamnya berhamburan. Satu persatu uang itu dia pungut. Setelah dihitung celengannya itu ternyata berisikan uang sejumlah Rp. 107.000,00.
Semula uang itu akan dipergunakannya untuk membeli ‘mukjizat’di apotek yang berada di seberang jalan dari rumahnya. Namun karena Abel teringat ucapan ibunya bahwa “hari ini mereka takkan dapat makan karena tak mempunyai uang untuk membeli nasi”. Desakan ekonomi yang menimpa keluarganya, membuat hati Abel iba ia merasa uangnya lebih baik diberikan ibunya untuk membeli nasi. Segeralah Abel mencari ibunya untuk memberikan uang itu. Sudah berkali –kali ia mencari ibunya, namun tak bertemu juga. Tiba-tiba seorang lelaki dengan nafas terengah-engah setelah berlari, menghampiri Abel dan mengatakan bahwa ibunya telah mengalami kecelakaan. Dengan mata bercucuran air mata Abel segera berlari tanpa arah, mendekati suara orang berkerumunan tanpa memperdulikan langkahnya, hingga ia berulang kali terjatuh.
Abel menangis tersedu-sedu meraba dan merasakan orang yang paling ia cintai terbaring di jalan. Mobil ambulanpun datang dan membawa ibu Abel ke rumah sakit. Namun apa daya, ibu Abel talah meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit. Kini ia hidup sendirian di kota kecil itu, pernah Abel mendengarkan ibunya berbicara bahwa ‘Di dunia ini terdapat dua macam manusia, yang satu berhati baik dan yang satu berhati buruk. Hal itu hanya dapat diketahui dari dalam hati bukan dari pengelihatan ataupun perabaan, karena perasaan itu terbentuk dari ketulusan hati’. Pendidikan Abel kini telah terhenti akibat tak mampunya melunasi biaya administrasi sekolahnya.
Dalam kondisi ini, semangat Abel tak pernah luntur. Ia tidak ingin hidup seperti ini, hidup yang menggantungkan diri pada orang lain, ia ingin hidup seperti orang-orang lain yang dapat bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Dengan tongkat dan kacamatanya Abelpun melangkah keluar dan mencari pekerjaan agar ia dapat memperolah uang. Namun tak ada pekerjaan yang ia dapat kerjakan. Haripun mulai gelap, abelpun memutuskan unrtuk segera pulang. Di tengah perjalanannya pulang, ia bertemu lelaki tua bernama Pak Toy. Lelaki setengah tua itu menanyai Abel.
Namamu siapa, dik?” Tanya pak Toy,
Namaku Abel, pak” jawab Abel,
Apa yang kamu lakukan disini?” dengan rasa penasaran pak Toy bertanya,
Abel sedang mencari pekerjaan, apakah bapak punya pekerjaan untuk abel?” Tanya Abel dengan lugunya,
Ada banyak pekerjaan disini, kamu hanya perlu membawa tempat untuk meletakkan uang” jawabnya,
Pekerjaan seperti apa itu, Pak?” jawab Abel penasaran,
Mengemis!”dengan tegas pak Toy mengatakannya,
Saya mohon maaf Pak, mungkin saya sebagai manusia memiliki keterbatasan fisik. Namun saya tidak ingin menggeluti pekerjaan seperti itu, Karena saya berkeinginan membantu orang lain bukan meminta orang lain”. Jawab Abel percaya diri,
Ya sudah kalau begitu” jawab Pak Toy dengan marah dan kesal,
Abelpun segera melanjutkan perjalanan pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Abel beristirahat sejenak di kasur kusam miliknya. Abel teringat bahwa ia masih menyimpan uang Rp.107.000,00 miliknya. Ia memikirkan tentang kesembuhan matanya. Ia merenung meratapi nasibnya dan bertanya dalam hati, “Mengapa keadaanku seperti ini?”. “Mengapa semua ini terjadi kepadaku?”. Hal itu membutnya teringat akan ‘mukjizat’ yang pernah ibunya katakan. Segeralah Abel pergi ke apotek di seberang jalan rumahnya. Sesampai di apotek, Abel tidak terlalu ditanggapi oleh petugas apotek, malah ia diusir dan dibentak-bentak agar keluar dari apotek itu. Dengan segenap niat dan semangat yang ada, Abel tetap berdiri di ruang apotek itu. Akibatnya, petugas apotek itu kesal dan menghampirinya.
 “Mau apa kamu dik?” Tanya petugas itu.
Saya mau membeli ‘mukjizat’ untuk kesembuhan kedua mata saya!” jawab Abel mantap sambil menunjukkan uang recehnya yang berjumlah Rp.107.000,00 tadi.
Mukjizat katamu?” jawab petugas apotek itu.
Ya, benar ‘mukjizat’ karena hanya mukjizatlah yang dapat menyembuhkan kedua mataku!” jawab Abel percaya diri.
Belum sempat sang petugas menjawab, tiba-tiba sorang pria yang mendengar ucapan Abel menghampirinya.
Siapa namamu, nak? Memangnya ‘mukjizat’ seperti apa yang kamu butuhkan ?” Tanya pria itu. Abel pun kemudian menceritakan kisah hidupnya dari awal serta keadaan yang saat ini ia alami, sementara pria itu dengan sabar mendengarkan cerita Abel.
Tak disangka pria itu ternyata seorang dokter spesialis mata terkenal, Dr. Arnold Soekamtjo. Setelah mendapatkan donor mata yang cocok , Abelpun segera dioperasi. Tidak hanya itu, Dr. Arnold Soekamtjo juga mengangkat abel menjadi anaknya. Abel pun tersenyum bahagia setelah dapat melihat indahnya dunia, dan telah mempunyai seorang ayah angkat yang merupakan salah satu manusia berhati baik di dunia.
Bel, perbedaan tidak selalu baik, tetapi yang terbaik itu sudah pasti berbeda” nasehat ayahnya yang selalu diingat oleh Abel. Kini Abel menjadi seorang Manager di salah satu perusahaan terkenal di Amerika Serikat, tidak hanya itu ia juga mendirikan sekolah khusus untuk penderita cacat mata dan masyarakat kurang mampu.

Injeksi Virus Motivation by ADIKA PANJI BINTARAThanks to my experience
Orang yang demi kebenaran dan kehormatan berdiri kokoh dan menderita lama, Orang berani yang bekerja ketika yang lain tidur, yang menantang ketika yang lain kabur, Mereka memendam tiang bangsa dalam-dalam dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke langit, itulah salah satu pria berhati baik di dunia ini”.  

Reaksi: 

0 komentar:

Poskan Komentar